Sejarah perkembangan Gereja Katolik “Santo Yusup“ Karangpilang – Surabaya yang disusun ini merupakan kisah dan peristiwa-peristiwa didalam perkembangan Gereja dengan bersumber pada buku “ Dwi Windu “ Gereja Katolik Santo Yusup Karangpilang, Oktober 1985, dan beberapa sumber lain yang masih ada. Sehingga sejarah singkat Gereja kita ini dapat memperluas wawasan pandangan kita sekitar berdirinya dan peresmiannya pada tanggal 19 Maret 1991, oleh Mgr.A.J. Dibjokarjono,Pr sampai saat ini.

P E R K E M B A N G A N

a) Periode tahun 1966-1968

Periode tahun 1966-1988 adalah masa perintis umat Allah menggereja. Pada bulan Januari 1966, Bapak John Suwito alias Bapak J. Tan Tjing Swie dengan tekat dan semangat pengabdian kepada Tuhan datang ke Surabaya ke Sepanjang dengan berkendaraan sepeda pancal untuk memenuhi panggilan-Nya guna melaksanakan tugas Pegabdiannya dengan menghimpun umat. Kegiatan dimulai dengan empat (4) umat, yaitu bersama bapak FX. Soeparlan dan Istri, Bapak Soeprapto (adik), bapak Soeparman melaksanakan kegiatan Doa rosario dan Doa-doa lainnya.

Awal Pebruari 1966 jumlah umat bertambah banyak dan pendalaman iman dan pelajaran agama digiatkan, mengambil tempat diruang makan pabrik panci Ketegan dimana bapak Pechler sebagai direkturnya. Pelajaran dilaksanakan setiap hari Rabu sore, untuk ini bapak Tan dibantu oleh saudari Kristanti. Dalam perkembangannya pelaksanaan pelajaran agama dibagi menjadi dua kelas yaitu : kelas anak-anak diasuh oleh saudari Kristanti, kelas orang dewasa diasuh oleh Bapak Tan Sendiri. Umat yang mengikuti pelajaran agama mencapai 50 orang.

b) Periode tahun 1969 – 1979.

Pada awal periode ini dilaksanakan Misa Kudus. Akhirnya tanggal 12 Oktober 1969 diberkati oleh Mgr. Y. Klooster, CM dan diberi nama “ GEREJA KATOLIK SANTO YUSUP“

Walaupun Gereja sudah ada dan pelaksanaan liturgi sudah teratur, namun Organisasi Dewan Stasi belum ada, yang merupakan struktur organisasi yang benar. Memang saat ini sudah ada yang mengurus, tapi lebih tepat disebut “Pelayan umat” yang pada saat itu dijabat oleh Bapak A. Dwidjo Djarinto. Pembantu imampun belum ada.

Tahun 1969 sampai tahun 1971 adalah masa penggembalaan Romo Reksosoesilo,CM. Karena kesibukan beliau maka tugas penggembalaan diganti oleh Romo R. Hariyanto, CM, atau Romo Reksosoebroto,CM, atau Romo AL. Louis Pandu,CM, atau Romo Boonekamp, CM. Pada masa penggembalaan Romo Reksosoesilo,CM, Pembinaan Mudika mendapat perhatian khusus.

Setelah masa penggembalaan Romo S. Reksosoesilo CM berakhir, maka tugas selanjutnya diemban oleh Romo J. Reijntjes CM dari tahun 1972 sampai tahun 1973. Kemudian diganti oleh Romo Beny Maryanto Pr. Sampai tahun 1976.

Pada masa penggembalaan Romo Beny Maryanto Pr. perkembangan Dewan Stasi mempunyai 4 (empat) kring, yaitu:

  1. Kring-1 : meliputi daerah Kedurus sampai Kebraon.
  2. Kring-2 : meliputi daerah Karangpilang, Balas Klumprik. Marinir dan Warugunung.
  3. Kring-3 : meliputi daerah Trosobo, Sukodono, Wonocolo.
  4. Kring-4 : meliputi daerah Bebekan, Medaeng, Turisari. Pada saat itu Ketua Dewan Stasi dijabat oleh Bapak. Hendro.

Periode Penggembalaan Romo A.J. Dibjokarjono,Pr dari tahun 1976 sampai tahun 1981, jumlah umat makin banyak. Maka diputuskan oleh Romo stasi untuk melaksanakan Misa kudus satu minggu 2 (dua) kali, yaitu pada hari Minggu pagi dan Minggu sore. Disamping itu diusahakan pula tanah di Kebraon Gg. 1 untuk membangun yang mampu menampung umat sekitar 5.000 orang, juga dibentuk panitia pembangunan Gereja dengan Ketua Bapak FX. Samidjan, yang terbentuk pada bulan Agustus 1979.

Peringatan satu Windu Gereja Katolik “Santo Yusup”, dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 1977, dengan Misa Kudus dan ramah tamah, yang dihadiri oleh Romo A.J. Dibjokarjono dan umat.

Pada tanggal 2 April 1978, selesai Misa Paskah diselenggarakan selamatan dalam rangka pembukaan tanah di Kebraon Gg. 1 Karangpilang, di tanah ini akan didirikan bangunan Gereja yang memadai. Acara ini dipimpin oleh Romo A.J. Dibjokarjono.

c)Periode tahun 1980-1985.

Karena perkembangan umat yang cukup pesat dan adanya sebuah gedung gereja yang cukup memadai sebagai sebuah stasi, maka Romo A.J Dibyokaryono sebagai Pastor Kepala Paroki HKY (Katedral) Surabaya memandang perlu adanya tenaga seorang katekis yang full time dan lulusan Sekolah (Akademi) Kateketik, karena semasa itu katekumen hanya diajar/ dipersiapkan oleh tenaga part time/sukarelawan dari kalangan umat yaitu bapak St.Djayeng Soesilo.

Maka sejak Januari 1981bp. Frans A.Landowero ditempatkan di stasi karangpilang-Sepanjang sebagai katekis pertama. Tugasnya antara lain: mengajar katekumen digereja dan lingkungan, mengajar sekolah minggu dibeberapa kring, seperti: kring Warugunung, Turisari, Kalijaten, mengajar agama di sekolah-sekolah di sekitar stasi karangpilang-sepanjang, mengatur / mempersiapkan liturgi dan membina misdinar. Saat itu perlengkapan misa seperti roti dan anggur masih mengambil dari Katedral.

d) Sejak 1 Juli 1981

penggembalaan Romo A.J. Dibjokarjono Pr diganti dengan Romo Y.H.Purwoputranto Pr yang lebih muda dan energik, menumbuhkan daya kreatif umat katolik dalam hal peningkatan kegiatan liturgi, penyempurnaan Dewan dan Komunikasi sosial.

Pelaksanaan pelayanan Sakramen-sakramen berjalan semakin tertib dan upacara liturgi lainnya. Guna meningkatkan karya pengudusan dan penggembalaan secara intensif, maka tahun 1981 dilantiklah para Pembantu Imam yang terdiri dari Bapak S.J.Soesilo, Bapak A. Dwidjo Djarinto. Beberapa bulan kemudian, Bapak Frans Landowero diminta oleh Rm. Purwoputranto, Pr untuk menghubungi Bapak Sukardi di Pabrik Spindo, Warugunung, untuk berkenan menjadi asisten imam, kebetulan beliau pernah mengenyam pendidikan di Akademi Kateketik di Madiun.

Kemudian Asisten Imam di tahun 1983

bertambah dengan dilantiknya Bapak FX. J. Sukardi. Tugas utama adalah: membantu Imam dalam perayaan Ekaristi, memberikan Sakramen Mahakudus kepada orang sakit dan mendoakan jenasah pada saat penguburan.

Pendampingan umat berjalan dalam bentuk: rekoleksi intern Stasi maupun oleh paroki HKY Surabaya, ibadat sabda, dan doa-doa lingkungan, Ziarah ke Sendangsono. Mengikuti retret yang diselenggarakan oleh Paroki HKY, melaksanakan lomba membaca Alkitab dan cerdas cermat.

Dalam menambah semarak liturgi pada perayaan Ekaristi, pembinaan koor Kring digiatkan; terutama untuk Misa Agung seperti perayaan Natal, Paskah,dll.

Pembinaan Mudika mendapat perhatian khusus,dengan kegiatan seperti ; Misa khusus untuk Mudika, rekoleksi Mudika, doa bersama Mudika Kring.

Dalam membantu Romo Stasi

untuk mengemban Tri Tugas Kristus. Pada periode ini, berturut-turut yang menjabat Ketua Stasi adalah:

  • Periode 1980-1982, Bapak Y. Sarjono. Pada periode ini berkembang dari 4 Kring menjadi 5 Kring.
  • Periode 1982-1984, Bapak L.B.Sutedjo. Pada periode ini Kring berkembang dari 5 menjadi 9 Kring.
  • Periode 1984-1986, Bapak J.B. Soeparman. Pada periode ini Kring berkembang dari 9 menjadi 11 Kring.
  • Periode 1987 – 1988,
  • Periode 1989 – 1992 , Bp. L.B. Sutedjo

Mengingat tugas pelayanan Pastor semakin padat,

maka pada tanggal 9 Nopember 1985 dilantik 3 pembantu Imam, yaitu : Bapak L.B. Sutedjo, Bapak Patricius Wahyu dan Bapak J.V. Wandono. Bapak Frans Landowero pada tahun 1987 mengundurkan diri dari katekis karena diterima sebagai pegawai negeri.

Pada akhir tahun 1990 jumlah umat dari Wilayah A sampai dengan wilayah D berjumlah 3.644 jiwa dengan perincian global sebagai berikut Wilayah A : 940 umat, Wilayah B : 915 umat, Wilayah C : 902 Umat, dan Wilayah D : 940 Umat.

Para Pastor perintis dan pengembangan Stasi :

  • Pastor R. Kumoro, Pr Penggembalaan tahun 1966
  • Pastor I. Suharto, CM Penggembalaan tahun 1966-1968 awal.
  • Pastor L. Cahyo, CM Penggembalaan tahun 1968.
  • Pastor S. Reksosoesilo, CM Penggembalaan tahun 1969-1971.
  • Tercatat pula beberapa Pastor yang bergantian membantu di Stasi ini :
    1. Haryanto, CM
    2. Reksosubroto,CM
    3. Loise Pandu, CM
    4. Boonekamp, CM 5. Rm. J. Reintjes, CM Tahun 1972-1973.
  • A. Beny Maryanto, Pr Tahun 1973-1976.
  • A.J. Dibyokaryono, Pr Tahun 1976-1981.

Romo-romo tersebut diatas melayani Paroki ini masih dalam status wilayah. Dari Stasi menjadi Paroki

  1. Y.H. Purwoputranto, Pr 2. Rm. Alexius Ate, Pr
  2. Karolus Jande, Pr
  3. FX. Otong Setiawan, Pr
  4. Yosef Reko Boleng, Pr
  5. Aloysius Aratia Wardhana
  6. F.X. Kurnia Yudatama
  7. Aloysius Agus Wijatmiko
  8. Yohanes Rudianada

Peralihan status dari Wilayah menjadi Paroki dirintis oleh RomoY.H. Purwoputranto, Pr sampai pada peresmian menjadi Paroki pada tanggal 19 Maret 1991 dan masih melayani penggembalaan Paroki sampai dengan tahun 1992.

Pastor-pastor yang melayani Setelah menjadi Paroki adalah :

  • Ignatius Kaderi, Pr Penggembalaan tahun 1981 – 1992
  • John. Pareira, Pr Penggembalaan tahun 1992 – 1998.
  • FX. Otong Setiawan, Pr Penggembalaan tahun 1998 – 2003
  • Aloysius Hans Kurniawan, Pr Penggembalaan tahun 2003 – 2006
  • Sabas Kusnugroho, Pr. Penggembalaan tahun 2006 – 2009
  • F.X. Kurnia Yudatama Penggembalaan tahun 2009 – 2013
  • Aloysius Widya Yanuar Nugraha Penggembalaan tahun 2013 – 2014
  • Aloysius Widya Yanuar Nugraha
  • Thomas Aquino Djoko Nugroho Penggembalaan tahun 2014 – 2015
  • Thomas Aquino Djoko Nugroho Penggembalaan tahun 2015 – 2016
  • Thomas Aquino Djoko Nugroho
  • Juventius Devi Ghawa Penggembalaan tahun 2016 – 2018
  • Alphonsus Boedi Prasetijo
  • Matheus Suwarno Penggembalaan tahun 2018 – sekarang

Pembagian Wilayah dan Lingkungan Paroki Santo Yusup

pada tahun 1997-2000 terdapat 4 Wilayah dengan perincian sebagai berikut:

  1. Wilayah A terdapat 12 lingkungan
  2. Wilayah B terdapat 9 lingkungan
  3. Wilayah C terdapat 9 lingkungan
  4. Wilayah D terdapat 5 lingkungan

Dalam perkembangannya Pengurus Dewan Paroki, wilayah maupun lingkungan membutuhkan pelayanan yang intensif kepada umat sehingga perlu pemekaran wilayah maupun lingkungan. Yang terjadi juga adalah: Salah satu lingkungan dari wilayah A yaitu lingkungan A1 pada tanggal 18 Mei 2000 diserahkan secara resmi oleh Pengurus Dewan Paroki Santo Yusup ke Pengurus Dewan Paroki Redemptor Mundi.

Mengingat masa kepengurusan Dewan Paroki periode 1997-2000 akan segera berakhir maka Romo Paroki (Rm. Karolus Jande, Pr) beserta Pengurus Harian Dewan Paroki, mengadakan kunjungan ke Wilayah-wilayah untuk mensosialisasikan Kriteria Kepengurusan Dewan Paroki periode 2000-2003, dan rencana pemekaran wilayah-wilayah dan lingkungan.

Pemekaran lingkungan dan wilayah mulai dilakukan pada bulan Agustus s/d Desember tahun 2000.

Hasil yang dicapai adalah sebagai berikut:

  • Wilayah A dimekarkan menjadi 2 yaitu: Wilayah A + E
  • Wilayah C dimekarkan menjadi 2 yaitu: Wilayah C + F
  • Wilayah B dan D tidak mengalami pemekaran.

Sedangkan lingkungan-lingkungan yang mengalami pemekaran adalah:

  • Lingkungan 7B dimekarkan menjadi 7B dan 9B
  • Lingkungan 3B dimekarkan menjadi 3B dan 8B

Dengan terjadinya pemekaran wilayah dan lingkungan maka terjadi perubahan jumlah wilayah dan lingkungan sebagai berikut:

  • Wilayah A (Santo Aloysius) terdiri dari lingkungan : 1A sampai dengan 7A
  • Wilayah B (Santo Yohanes Pemandi) terdiri dari lingkungan: 1B sampai dengan 9B.
  • Wilayah C ( Santo Theophilus) terdiri dari lingkungan 1C sampai dengan 4C
  • Wilayah D (Santo Dionisius) terdiri dari lingkungan 1D sampai dengan 5D.
  • Wilayah E (Santo Paulus) terdiri dari lingkungan 1E sampai dengan 7E.
  • Wilayah F (Santo Petrus dan Paulus) terdiri dari lingkungan 1F sampai dengan 5F.

Dengan demikian jumlah wilayah di Paroki Santo Yusup saat ini berjumlah 6 wilayah yang terdiri dari 37 lingkungan.

Di samping ini umat Paroki Santo Yusup boleh berbangga hati dengan keberadaan Kapel yang terdapat di :

  • Taman Pondok Jati
  • Babatan Pratama
  • Griya Kencana

Dengan demikian umat dapat memperoleh pelayanan baik yang bersifat liturgis maupun non liturgis.

  1. Sebelah Utara : Paroki Aloysius Gonzaga (Lakarsantri). Wilayah V Paroki Hati Kudus (Darmo Sentosa Raya), Stasi Gresik dan Paroki Santo Yakobus Citraland.
  2. Sebelah Timur : Paroki Yohanes Pemandi dan Paroki Gembala Yang Baik (Turisari, Pereng, Pagesangan, Medaeng, Perum Taman Surya Agung ).
  3. Sebelah Selatan : Kuasi St. Monika Krian (Trosobo Barat, Sukodono), dan Paroki Sidoarjo
  4. Sebelah Barat : Paroki Gresik (Krikilan, Driyorejo), dan Stasi Krian.

BATAS GEOGRAFIS PAROKI SANTO YUSUP KARANGPILANG 2009 – Sekarang

Dengan terjadinya pemekaran wilayah pada tahun 2017 serta pemekaran Lingkungan, maka terjadi perubahan jumlah wilayah dan lingkungan sebagai berikut:

  • Wilayah A (Santo Aloysius) terdiri dari lingkungan : 1A sampai dengan 11A
  • Wilayah B (Santo Yohanes Pemandi) terdiri dari lingkungan : 1B sampai dengan 11B
  • Wilayah C ( Santo Theophilus) terdiri dari lingkungan : 1C sampai dengan 4C
  • Wilayah D (Santo Dionisius) terdiri dari lingkungan : 1D sampai dengan 6D.
  • Wilayah E (Santo Paulus) terdiri dari lingkungan : 1E sampai dengan 9E.
  • Wilayah F (Santo Petrus dan Paulus) terdiri dari lingkungan : 1F sampai dengan 10F
  • Wilayah G (Santo Gregorius Agung) terdiri dari Lingkungan : 1G sampai dengan 6G
  • Wilayah H (Santo Hendrikus) terdiri dari Lingkungan : 1H sampai dengan 3H.

Dengan demikian jumlah wilayah saat ini berjumlah 8 wilayah yang terdiri dari 60 lingkungan. Di samping ini umat Paroki Santo Yusup boleh berbangga hati dengan keberadaan Kapel yang terdapat di :

  • Santo Yohanes Rasul Taman Pondok Jati
  • Santo Simon Babatan Pratama
  • Santo Petrus dan Paulus Griya Kencana
  • Rumah Doa dan Kapel Santo Gabriel Kota Baru
  • Santa Maria – Citra Harmoni

kutipan dari : https://keuskupansurabaya.org/page/paroki-st-yusup-karang-pilang/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *